Tuesday, March 6, 2018

Prototipe Bus Listrik Buatan Dalam Negeri

Mengurangi polusi udara sudah menjadi tanggung jawab bagi umat manusia di seluruh dunia. Beragam penemuan dan cara telah dilakukan oleh manusia untuk menahan atau bahkan mengurangi laju perkembangan polusi udara. Salah satu caranya yaitu dengan mengajak masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum, bus khususnya. Di luar negeri misalnya, kata orang-orang sih sistem transportasi bus disana sudah sangat bagus, masyarakat di luar sana lebih milih naik bus ketimbang kendaraan pribadi. Jika suatu hari nanti pengguna bus semakin banyak, maka populasi bus juga semakin banyak dan mungkin aja polusi dari mesin diesel bus bisa jadi masalah baru untuk polusi udara.

Maka dari itu beberapa produsen bus di dunia sudah mulai berinovasi dengan menciptakan bus jenis big bus yang lebih ramah lingkungan, seperti Toyota dengan bus hidrogennya yang diberi nama Sora, Mercedes-Benz dengan Citaro G Hybird dan lain sebagainya. Tak kalah, insinyur-insinyur dalam negeri pun juga mulai menciptakan teknologi bus listrik untuk jenis big bus, ya meskipun basic-nya masih menggunakan chassis bus konvensional. Berikut ini beberapa prototipe bus listrik jenis big bus yang pernah dibuat di dalam negeri:

1. Bus Listrik Ahmadi

Eksterior Bus Listrik Ahmadi. Sumber

Tiga orang sarjana Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil menciptakan bus listrik yang diklaim tercanggih pada saat itu. Ketiga sarjana itu adalah Mirfa Fauzan, Nydia Irtiana, dan Ahmad Kurnia Paramastya yang bekerja di PT Sarimas Ahmadi Pratama pimpinan Dasep Ahmadi, warga Depok yang berhasil menciptakan mobil listrik.

Selain tercanggih, bus yang diberi nama Ahmadi ini juga diklaim sebagai bus ternyaman, dan terbesar di Indonesia untuk ukuran bus listrik. Bus dilengkapi dengan baterai Lithium Ferofospat, mampu menempuh hingga 100 Km dengan kecepatan 80 Km per jam.

Baterai dari bus ini bisa menyimpan daya 150 kilo watt dan perlu diisi selama delapan jam. Kendati dirakit dan dibuat di Depok, namun 50% bagian dari bus ini diimpor dari Amerika Serikat (AS) dan sisanya menggunakan produk lokal Indonesia. Kalau dilihat dari setirnya sih, sepertinya pakai chassis Hino RK8 ini.

Dashboard Bus Listrik Ahmadi. Sumber
Bus ramah lingkungan ini dilengkapi alat kontrol perilaku pengemudi saat menjalankan bus. Bus berkapasitas 40 penumpang ini sudah pernah melakukan test drive ke kawasan Puncak Bogor. Sebelum diproduksi, tim melakukan penelitian sejak 2013. Semua rancangan dan perakitan bus dilakukan di perusahaannya. Ketiga peneliti itu membutuhkan waktu enam bulan untuk menciptakan bus yang diklaim tercanggih tersebut. Biaya penelitiannya mengeluarkan dana sebesar Rp 3 miliar. Saat itu ada tiga bus siap dijual dengan harga kisaran Rp 4-8 miliar bergantung spesifikasi bus.

Namun sayangnya proyek bus listrik ini harus disudahi dengan kasus korupsi.

2. Molina EV-Bus


Moline EV Bus. Sumber
UI meluncurkan kendaraan mobil berbasis listrik pada momen perayaan ulang tahun ke-52 Fakultas Teknik UI pada Senin (18/7/2016) di Fakultas Teknik, Kampus UI Depok. Bus ini dirancang bangun oleh Tim Mobil Listrik Nasional UI (Molina UI). Tim Molina UI terdiri atas dosen, peneliti dan mahasiswa dari berbagai dispilin keilmuan di UI. Para ahli Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Material dan Metalurgi, Ekonomi, Hukum dan ilmu budaya turut serta membuat bus penumpang bertenaga listrik tersebut.

Biaya pengembangan dan pembuatan kendaraan listrik tersebut didanai oleh LPDP melalui program Pengembangan Riset Industri Strategis Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Dashboard Molina EV-Bus. Sumber
Molina UI – Bus EV merupakan bus berkapasitas 60 penumpang dengan daya motor 120 kW dan 300 Ah. Sepertinya basic dari bus ini menggunakan chassis Hino RK8 yang menggunakan Karoseri Delima Jaya. Tidak hanya Bus Konversi Electric Vehicle (EV), Tim Molina UI juga merancang bangun tiga kendaraan listrik lainnya yaitu Makara Electric Vehicle (MEV) 01, City Car konversi (MEV) 02 dan City Car konversi (MEV) 03.

Bus ini dirancang untuk dapat menggantikan bus kampus UI yang berbahan bakar solar. Molina UI – Bus EV ini telah menjalani uji coba berkeliling kampus UI Depok dan saat ini tengah menjalankan uji level kelayakan untuk dapat diterapkan sebagai Bis Kuning (Bis keliling UI).

3. Maxvel E-Bus

Eksterior Electric Bus PT MAB. Sumber

Pameran Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GIICOMVEC) 2018 menjadi "panggung" pertama bagi unit prototipe kedua bus listrik produksi PT Mobil Anak Bangsa (MAB) dengan seri produk MD255-XBE1. Dalam ajang pameran tersebut PT MAB memajang 2 prototipe bus listrik yang telah berhasil diproduksi. Unit prototipe kedua ini memiliki dimensi panjang keseluruhan 12000 mm, lebar 2500 mm, tinggi 3750 mm dan ground clearance 250 mm.

Dalam produksinya, PT MAB bekerja sama dengan China Trustfull Group Limited untuk menyediakan baterai dan mesin motor bus listrik. Bus yang terisi baterai penuh diperkirakan bisa menempuh jarak 250-300 kilometer. Untuk mengisi ulang daya beterai hingga penuh perlu memakan waktu sekitar tiga jam. Tipe baterai adalah LiFePo (Lithium Ferro Phosphate), spesifikasi 576 V 450 Ah, berkapasitas 259.2 kwh, dan total berat 2.290 kilogram. Tipe motor mesin adalah electrical motor PMSM (Permanent Magnetic Synchronous Motor) dengan seri HYYQ 800-1200. Kekuatan maksimal sebesar 200 kw 268 hp.

Unit ini bersifat low entry, yaitu lantainya kabin bagian depan lebih rendah dari bus padaumumnya, hal itu dapat mempermudah akses bagi penyandang disabilitas untuk masuk ke dalam bus. Untuk prototipe kedua ini, body yang digunakan buatan Karoseri New Armada.

Interior Electric Bus PT MAB. Sumber
PT MAB merupakan perusahaan yang memproduksi bus dengan mesin listrik. Seluruh pengerjaannya diselesaikan oleh Indonesia. Begitu juga seluruh suku cadang berasal dari dalam negeri, kecuali baterai dan motor mesin. Prototype pertama diluncurkan pada Maret 2017 dan telah menempuh perjalanan sejauh 3 ribu kilometer. Perbedaan prototype pertama dan kedua hanya dari segi sasis atau kerangka bus. Prototype pertama berwarna putih dan desain kursi penumpang yang nyaris menyerupai bus transjakarta. Sementara prototipe kedua bus listrik berwarna biru dengan desain kursi seperti bus pada umumnya. Menurut Jendral TNI (Purn.) Moeldoko selaku pendiri PT MAB, unit prototipe kedua ini dijual dengan harga sekitar Rp 3 miliar.

Sementara itu di pihak regulator yaitu Kementerian Perhubungan, masih melakukan pendalaman terkait dengan formulasi uji tipe kendaraan bermotor listrik, untuk selanjutnya menentukan perangkat peralatan yang dibutuhkan.

Direktur Sarana Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Eddy Gunawan mengatakan hal-hal yang tengah didalami itu seperti formulasi uji tipe, ambang batas suara kendaraan, pembeda suara kendaraan, kekuatan baterai, dan perangkat peralatan yang dibutuhkan.

Eddy mengatakan ambang batas suara diperlukan untuk guna memberikan keselamatan bagi pengguna jalan dan pengendara kendaraan listrik. Tidak hanya itu, suara kendaraan bermotor mobil listrik juga harus berbeda dengan suara sepeda motor memungkinkan. Karena kalau kendaraan listrik gak ada suara bahaya buat keselamatan, sudah dilakukan pendalaman, kira-kira berapa desibel.

Sumber

Refernsi 1, referensi 2, referensi 3, referensi 4, referensi 5, referensi 6, referensi 7


Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment